Skip to main content
Jumat, 18 Mei 2012

dr.Boedi Raharjo, Piawai Racik Krim Kecantikan

Metrogaya - Banyaknya pasien, terutama kaum hawa yang berkonsultasi seputar masalah kulit mendorong dokter muda ini menekuni dunia kecantikan.

Saat dirinya membuka praktik di Jombang selepas menyelesaikan pendidikan kedokteran Universitas Udayana Bali pada 2003 silam, boleh dibilang dr.Boedi Raharjo menjadi primadona para pasiennya.

“Mungkin karena saya orangnya gampang diajak ngobrol jadi pasien juga tidak sungkan ngobrol banyak dengan saya termasuk konsultasi masalah kulit,” ujarnya saat ditemui di tempat praktiknya di kawasan Raya Sukomanunggal.

Meski membuka praktik sebagai dokter umum tapi dokter Boedi tak canggung menjawab pertanyaan para pasiennya seputar masalah kulit kala itu. Selidik punya selidik, keluwesannya menjawab berbagai keluh kesah pasien seputar masalah kulit tak lepas dari profesi yang pernah ditekuninya selama menempuh pendidikan di kampus Udayana.

“Sebelum saya lulus, saya direkrut sebuah klinik kecantikan di Bali jadi saya sudah cukup familier dengan dunia kecantikan,” kelakarnya.

Kian banyak pasien yang intens berkonsultasi tentang masalah kecantikan di Jombang, dokter Boedi pun memproduksi krim kecantikan. Berbekal pengetahuan semasa dirinya bekerja di klinik kecantikan di Bali plus ilmu kedokteran yang sudah digenggamnya, dokter Boedi meracik krim kecantikan untuk memberikan solusi masalah kecantikan yang dihadapi para pasiennya ketika itu.

Seperti dirinya yang selalu kebanjiran keluhan pasien tentang masalah kecantikan, krim yang diproduksi juga laris manis. Animo masyarakat Jombang yang cukup positif terhadap keberadaan krim kecantikan miliknya, melecut bapak satu putri ini untuk membuka klinik kecantikan. Pilihan pun jatuh pada kota asalnya, Surabaya. “Kalau saya hanya berkutat di Jombang tentu perkembangannya kurang signifikan, jadi saya putuskan buka klinik di kota besar seperti Surabaya,” tegasnya.

Menyadari tingkat persaingan yang akan dihadapi, sebelum membuka klinik kecantikan dokter Boedi memperdalam lagi pengetahuannya tentang dunia kecantikan. Selepas dari Jombang, ia pun melanglang buana menyelami dunia kecantikan.

“Selama dua tahun saya intens belajar kecantikan tidak cuma di dalam negeri tapi juga sampai ke  manca negara,” cetusnya. Saat merasa bekalnya telah cukup, dokter Boedi pun mulai mewujudkan keinginannya membuka sebuah klinik kecantikan.

Amethyst Clinic, inilah nama klinik kecantikan yang didirikannya pada 2006 silam. Meski telah banyak klinik kecantikan bertebaran di kota ini, namun tak membuatnya mundur.

Sebaliknya, telah banyaknya klinik kecantikan di kota ini membuat dokter Boedi terlecut untuk menyediakan sebuah tempat perawatan kecantikan berstandard internasional. “Sejak awal membuka klinik kecantikan saya tidak mau yang berstandard apa adanya tapi harus benar-benar representatif,” tegasnya.

Sebuah klinik kecantikan berstandard internasional coba diwujudkan dengan menyediakan sejumlah peralatan berkualitas terbaik. Jika banyak klinik kecantikan yang tergolong campur aduk perihal asal peralatannya, namun dokter Boedi pantang melakukannya.

Ratusan juta rupiah pun rela diinvestasikannya demi memeroleh peralatan kecantikan terbaik. Tentang apa yang dilakukannya ini, dokter Boedi kerap mendapat sindiran baik dari kolega maupun keluarganya. “Banyak yang menyayangkan sikap saya yang harus mengeluarkan uang ratusan juta rupiah hanya untuk membeli peralatan kecantikan, tapi saya tetap tidak bergeming,” ujarnya.

Meski telah memiliki klinik kecantikan seperti apa yang diinginkan namun dokter Boedi tetap tak meninggalkan profesinya sebagai dokter umum. Bahkan dua profesi, sebagai dokter umum maupun dokter kecantikan dijalankan bersamaan.

Di klinik kecantikan miliknya itu pula ia membuka praktik sebagai dokter umum. Baginya ada kepuasan tersendiri saat mampu menjalankan kedua profesi tersebut secara seimbang. “Dua-duanya ada plus minusnya tapi saya enjoy saya menjalaninya,” simpulnya. (mei/mg)