Ditulis oleh admin pada 24 Oct 2010 - 17:57
Metrogaya-Tiga dekade sudah, Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo memberi kontribusi terhadap perkembangan dunia mode Indonesia. Tak sedikit siswa lulusan sekolah mode yang berdiri sejak 1980 ini yang sukses menjadi pelaku mode terkemuka di bidangnya, sebut saja Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Didi Budiardjo, Adrian Gan dan Chenny Han.
Untuk menandai perayaan 30 tahun berdirinya, LPTB Susan Budihardjo mempersembahkan pergelaran akbar bertema 'Iconic Silhouette', sebuah Peragaan Busana Reuni yang mempertemukan 42 alumnus dari angkatan pertama sampai terakhir, yang sebagian besar merupakan perancang ternama Indonesia."Tak terasa cepat sekali waktu berlalu. Saya senang bisa kumpul dan bertemu kembali dengan siswa-siswa dari jaman dulu. Sebastian siswa Saya yang paling lama, dia masuk sekolah ini sejak usia 16," tutur Susan Budihardjo, ditemui usai peragaan di Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Kamis malam (21/10).

Masing-masing perancang menampilkan satu karya terbaiknya dengan siluet baru yang ikonik. Sofie, misalnya, menampilkan gaun yang terbuat dari susunan 30 topi vedora. "Topi-topi itu Saya jahit, pengerjaannya lima hari. Karya ini khusus didedikasikan untuk LPTB Susan Budihardjo," terang Sofie.
Karya yang tak kalah unik juga datang dari Irsan. Karena berhalangan hadir, desainer pemilik butik 'House of Irsan' ini mengirimkan 'surat cinta' dalam bentuk cape lebar dan besar bertuliskan 'Dearest Susan 30th Anniversary'. "Iya, itu surat cinta untuk Saya. Karena dia sedang di Bali, tidak bisa datang. Dia mau rancangannya itu dipajang di sekolah," ucap Susan.
Kebaya couture Djoko Sasongko, gaun mini bernuansa futuristik Rudy Chandra, busana plastik Chenny Han, busana ksatria karya Deny Juwardi dan karya 36 alumnus lainnya pun turut menjadikan peragaan yang bedurasi selama 45 menit itu terasa spektakuler.
Menciptakan Ikon Sendiri
Selain menampilkan karya 42 alumnus, peragaan juga dibarengi dengan penampilan 73 busana rancangan 73 siswa lulusan 2010, yang 22 diantaranya merupakan karya 11 siswa berprestasi. Tema tahun ini, 'Iconic Silhouette' menjadi tantangan bagi para siswa untuk mencoba menciptakan ikon mereka sendiri lewat busana. Susan menjelaskan, ikon tidak harus terpatok pada sosok orang yang terkenal atau musisi legendaris. "Bukan seperti Michael Jackson atau Lady Gaga. Andaikata ada satu sosok yang mereka kagumi, orang itu ingin mereka dandani seperti apa? Lebih seperti itu," terangnya.
Tantangan juga datang dari penentuan bahan. Setiap siswa wajib mengkreasikan satu busana dari bahan flanel. Bahan tebal dan kaku yang biasa dijadikan pernak pernik seperti gantungan kunci, hiasan dinding, hiasan pintu dan bunga imitasi ini harus diolah sedemikian rupa menghasilkan busana bersiluet unik dan berbeda. "Mereka (siswa) masih muda, jadi harus berani bereksperimen, itu yang sekolah Saya tekankan. Tahun ini kami memilih flanel sebagai material utama, karena murah meriah. Kalau pakai bahan yang mahal, nanti mereka jadi takut bereksperimen. Kami selalu berusaha supaya biaya yang mereka keluarkan tidak terlalu besar," urai Susan.
Berbagai siluet baru pun tercipta dari konsep ini, misalnya gaun yang menyerupai bentuk es krim cone, baju warrior dengan detail menyerupai struktur bangunan, gaun mini kupu-kupu, serta busana yang nampak seperti susunan batu-batu khas bangunan Mesir.
Didasari kebebasan berkarya, Susan berharap siluet pakaian yang ditampilkan bisa dikenang, ditiru dan berpengaruh, yang lahir dari LPTB Susan Budihardjo. Bukan tidak mungkin kreasi tersebut akan menjadi ikon yang memperkaya siluet busana yang sudah dikenal dalam dunia mode selama ini, seperti siluet A, H, O, X atau I.
(yc/vibizlife)








