Skip to main content
Jumat, 18 Mei 2012

Sejuta Kisah Istana Bogor

Metrogaya - Berawal dari keinginan orang - orang Belanda yang bekerja di Batavia (kini Jakarta) mencari tempat peristirahatan di luar kota. Mereka kemudian menemukan sebuah tempat yang sangat strategis dengan hawa sejuk.

Tempat yang ditemukan sekitar 10 Agustus 1744 ini bernama Kampong Baroe. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1745 Gubernur Jendral G.W. Baron van Imhoff (1745 - 1750) yang juga ikut melakukan pencarian memerintahkan pembangunan sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg, (artinya bebas masalah/kesulitan).

Dia sendiri yang membuat sketsa bangunan dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Proses pembangunan gedung itu dilanjutkan oleh Gubernur Jendral yang memerintah selanjutnya yaitu Gubernur Jendral Jacob Mossel yang masa dinasnya 1750 - 1761.

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat rusak berat akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang kemudian dikenal sebagai Perang Banten 1750 - 1754.

Pada masa Gubernur Jendral Willem Daendels (1808 - 1811), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.

Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jendal Baron van der Capellen (1817-1826), dilakukan perubahan besar- besaran. Sebuah menara di tengah - tengah gedung induk didirikan sehingga istana semakin megah, Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817. Pada 10 Oktober 1834, gedung ini kembali rusak berat akibat gempa bumi.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856), sisa bangunan lama akibat gempa dirubuhkan. Kemudian, dengan mengambil arsitektur eropa abad IX, bangunan baru satu tingkat didirikan.

Perubahan lainnya adalah dengan menambah dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap Kanan serta Sayap Kiri yang dibuat dari kayu berbentuk lengkung. Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861).

Pada 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Gubernur Jenderal Tjarda van StarkenborghStachower merupakan orang terakhir yang menempatinya sampai tahun 1942, bertepatan dengan pendudukan Jepang atas Indonesia.

Sejak itu, istana ini diserahkan kepada Jenderal Imamura. Selama dikuasai Jepang, istana ini jarang digunakan sebagai tempat pesta atau upacara, bahkan harta peninggalan para Gubernur Jenderal Belanda berupa cenderamata dari beberapa raja Jawa, diantaranya keris emas bertabur intan habis disita tentara Jepang.

Usai Perang Dunia II, Jepang takluk dengan sekutu. Pada saat itulah sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) menduduki Istana Buitenzorg dan berhasil mengibarkan bendera merah putih. Tapi tidak berlangsung lama, mereka kemudian diserbu tentara Gurkha hingga terpaksa hengkang. Baru pada tanggal 31 Desember 1949 istana diserahkan Belanda kepada pemerintah RI dalam keadaan kosong, hanya tinggal enam buah cermin besar dan dua patung dada yang terletak di serambi belakang gedung induk.

Pemerintah Indonesia mulai menggunakan Istana Bogor pada Januari 1950. Pada 1952 ada sedikit penambahan di bagian depan induk berupa emperan yang ditopang oleh sepuluh pilar bergaya Ionic, menyatu dengan serambi muka yang juga disanggah enam pilar bergaya serupa. Anak tangga yang semula setengah lingkaran berubah bentuk menjadi horizontal.

Karena kerap digunakan untuk acara-acara kenegaraan yang kerap didatangi tamu-tamu penting, maka sejak 1954 dibangun paviliun I sampai V seluas 2.363 m persegi yang letaknya terpisah dengan istana. Paviliun II pernah ditempati Soekarno dan Ibu Hartini. Tahun 1964 dibangun lagi sebuah paviliun seluas 500 m persegi yang juga terpisah dari istana dan diberi nama Diah Bayurini yang digunakan Soeharto berserta keluarga saat berada di Bogor.

Bangunan utama Istana Bogor adalah Gedung Induk yang di dalamnya terdapat Ruang Garuda, Teratai, Film, Perak, Kerja, Makan, Pantri dan beherapa ruang tidur serta ruang induk yang terdapat di sayap kanan maupun kiri. Selain itu terdapat bengunan pendukung herupa perkantoran, poliklinik, pergudangan, pos jaga, ruang serba guna, museum dan heberapa paviliun. Istana induk sayap kiri memiliki luas bangunan 325 m persegi. Bangunan ini kerap dipakai sebagai tempat menginap para menteri. Di dalamnya terdapat enam buah kamar tidur, satu ruang pertemuan dan satu ruang konferensi.

Sampai sekarang, Istana Bogor berfungsi sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden. Beberapa peristiwa penting dan bersejarah pernah terjadi di istana ini antara lain Konferensi Panca (lima) Negara pada 28-29 Desember 1954 yang merupakan lanjutan di Colombo sebagai persiapan Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955, penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, lalu pembahasan masalah konflik Kamboja yang dikenal dengan JIM pada 25-30 Juli 1988 serta pertemuan APEC pada 15 November 1994.

Dulu Istana Bogor hanya diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan dan pesta para Gubernur Jenderal kemudian menjadi tempat acara kenegaraan dan penting lain bagi para petinggi negara termasuk presiden dan jajaran menteri, kini seiring masa keterbukaan, Istana pun terbuka untuk umum.

Masyarakat dapat berkunjung dan diperbolehkan melihat langsung beberapa ruangan di dalamnya. Namun untuk itu, masyarakat perlu mematuhi persayaratan yang berlaku. Meski pengunjung tidak bisa bermalam di Istana Bogor, rasanya cukup puas bisa mengambil gambar atau berpose bersama dengan latar belakang istana sebagai tanda bukti kita sudah menginjakkan kaki di kantor sekaligus kediaman orang nomor satu di negeri ini. (hd/presidenri.go.id/liburan.info)