|
|
Potret Surabaya Tempo Dulu Di Atas Kaos
Submitted by metrogaya on Tue, 09/02/2010 - 16:57
Metrogaya - Surabaya boleh dibilang sebagai kota yang cukup terkenal di wilayah nusantara, baik dalam sejarah, kebudayaan hingga makanan khasnya. Bicara tentang sejarah Surabaya, semuanya 'tersaji' dalam rupa gedung-gedung peninggalan zaman kolonial yang hingga kini masih terpelihara keberadaannya.
Di beberapa sudut kota ini dapat dijumpai gedung-gedung bersejarah yang telah dijadikan cagar budaya. Potret kota Surabaya tempo dulu kini tertuang dalam desain kaos. Adalah Kuncarsono Prasetyo yang menuangkan cagar budaya Surabaya ke dalam desain kaos bermerk dagang Sawoong. "Untuk desain kaos saya memang banyak menggambarkan cagar budaya di Surabaya, jadi ada aroma heritage-nya atau warisan budaya, dan inilah ciri khas kaos Sawoong," kata pria yang karib disapa Kuncar ini.
Untuk menghasilkan desain yang maksimal, Kuncar banyak melakukan riset dan mengumpulkan foto dokumentasi sejarah Surabaya, termasuk buku dan koran tempo dulu sampai bertemu para ahli sejarah. Agar lebih berbau tempo dulu, semua tulisan dalam desainnya menggunakan ejaan van Ophuijsen, ejaan melayu pasar yang populer sejak 1901. Pilihan huruf di kata kata juga disesuaikan dengan karakter huruf art deco.
Hasilnya bisa dilihat sekarang. Hampir semua gedung dan kawasan bersejarah di kota ini mejeng di kaos Sawoong. Mulai Hotel Majapahit, Balai Kota, Gedung Brantas, Jalan Panggung, Stasiun Semut, Balai Pemuda, Gedung Cerutu, hingga Pintu Air Jagir. Bahkan karena kekuatan risetnya, Kuncar berani menghadirkan latar belakang kisah tiap gedung. Misalnya Balai Kota yang dibangun 1920-1925 oleh arsitek CG Citroen. "Jadi dalam setiap desain gedung yang terpajang di kaos pasti dilengkapi sepenggal tulisan yang bertutur tentang sejarah gedung yang bersangkutan," jelas Kuncar.
Belakangan karena risetnya semakin dalam, Sawoong juga mengangkat tema lain. Di antaranya iklan promosi dagang Surabaya yang diambil dari iklan sebuah surat kabar tahun 1931. Ini unik karena kalimatnya campuran bahasa melayu pasar dan Belanda. Juga desain prangko yang terbit tahun 1935 plus stempel Surabaya. "Saya tidak hanya menjual kaos, namun mempromosikan sejarah kota Surabaya yang mulai memudar," tegas Kuncar. Setiap kaos yang dihasilkan, Kuncar pasang harga mulai Rp 45 ribu hingga Rp 60 ribu. Untuk memeroleh kaos Sawoong juga bukan hal sulit karena showroom Sawoong dapat dijumpai di Jembatan Merah Plasa (JMP) 2 dan Pakuwon Trade center (PTC). (mei/mg)



